SOAL URAIAN BAB 8 ( SISTEM EKSKRESI )


SOAL URAIAN BAB 8 ( SISTEM EKSKRESI )
1.       Jelaskan pengertian dari alat-alat ekskresi pada manusia berikut :
a.       Kulit
b.      Paru-paru
c.       Hati
d.      Ginjal.
2.       Jelaskan pengertian dari macam-macam gangguan pada sistem ekskresi berikut :
a.       Sistitis (Cystitis)                         d. Albuminaria
b.      Hematuria                                   e. Batu ginjal
c.       Glomerulonefritis                    f. Gagal ginjal
3.       Jelaskan pengertian dari macam-macam gangguan pada sistem ekskresi berikut :
a.       Dermatitis                                   d. Penyakit kuning
b.      Prostatis                                      e. Glikosuria
c.       Impetigo                                      f. Hematuria
4.       Jelaskan mengenai Sistem Ekskresi pada Hewan Vertebrata berikut :
a.       Ikan                               c. Reptil
b.      Katak                             d. Burung
5.       Jelaskan mengenai Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata berikut :
a.       Protozoa                      c. Cacing tanah
b.      Planaria                        d. Serangga
6.       Jelaskan pengertian dari :
a.       Dermis                                          d. stratum lusidum
b.      Epidermis                                    e. stratum granulosum
c.       stratum korneum                    f. stratum germinativum
7.       Secara umum, terdapat tiga peristiwa penting dalam pembentukan urine. Sebut dan jelaskan 3 peristiwa tersebut ?
8.       Jelaskan pengertian dari zat-zat hasil ekskresi berikut :
a.       Karbondioksida dan air                          d. Asam urat
b.      Amonia                                                        e. Zat warna empedu
c.       Urea
9.       Struktur metanefridrium yang terdapat pada cacing tanah, dibagi menjadi 3 fungsi utama. Sebut dan jelaskan ke 3 fungsi utama tersebut ?
10.   Setiap nefron tersusun atas 5 struktur. Sebut dan jelaskan ke 5 struktur tersebut ?



KUNCI JAWABAN SOAL URAIAN BAB 8 ( SISTEM EKSKRESI )
1.       a.   Kulit. Sebagai alat ekskresi, kulit mengeluarkan keringat. Keringat terdiri atas air dan
      garam-garam mineral (terutama NaCl, itu sebabnya keringat terasa asin), serta
      sedikit sampah buangan, seperti urea, asam urat, dan amonia.
b.   Paru-paru berperan dalam proses ekskresi karena paru-paru mengeluarkan gas
      karbon dioksida dan air melalui proses respirasi.
c.   Hati termasuk dalam sistem ekskresi karena hati mengeluarkan empedu. Setiap hari,
      hati menyekresi sekitar 600–1.000 mL cairan empedu. Cairan empedu terdiri atas
      kolesterol, lemak, hormon pelarut lemak, dan lesitin.
d.      Ginjal adalah organ utama dalam sistem ekskresi. Ginjal mengeluarkan urea, kelebihan air, dan material sampah lainnya dalam bentuk urine. Urine dialirkan melalui ureter menuju kantung urine.
2.       a.    Sistitis (Cystitis) adalah peradangan yang terjadi di kantung urinaria. Biasanya,
       terjadi karena infeksi oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
b.   Hematuria, terjadi ketika ditemukan eritrosit dalam urine. Penyebabnya bermacam-
      macam, seperti adanya batu dalam ginjal, tumor di renal pelvis, ureter, kandung
      kemih, kelenjar prostat atau uretra.
c.   Glomerulonefritis adalah peradangan yang terjadi di glomerulus sehingga proses
      filtrasi darah terganggu.
d.    Albuminaria adalah kelainan, yang ditandai dengan ditemukannya zat putih telur
       (albumin) dalam urine.
e.      Batu ginjal adalah adanya objek keras yang ditemukan di pelvis renalis ginjal. Komposisi batu ginjal adalah asam urat, kalsium oksalat, dan kalsium fosfat. Batu ginjal terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi garam mineral, tetapi sedikit mengonsumsi air
f.        Gagal ginjal, terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk melakukan fungsinya secara normal. Hal ini dapat terjadi karena senyawa toksik, seperti merkuri, arsenik, karbon tetraklorida, insektisida, antibiotik, dan obat penghilang sakit pada tingkat yang tinggi.
3.       a.    Dermatitis adalah suatu peradangan yang terjadi di kulit, yang berulang-ulang dan
       sering kambuh. Contoh dermatitis yang umum adalah eksim.
b.   Prostatis adalah peradangan di prostat. Akibat peradangan tersebut, penderitanya
       sulit buang air seni.
c.    Impetigo adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini
       terjadi pada anak-anak, terutama pada mereka yang kekurangan gizi.
d.      Penyakit kuning yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran empedu karena adanya penumpukan kolesterol dan membentuk batu empedu.
e.      Glikosuria adalah kelainan yang dicirikan dengan ditemukannya glukosa pada urine. Hal tersebut menunjukkan adanya kelainan pada tubulus ginjal.
f.        Hematuria adalah kelainan dengan tanda ditemukannya sel darah merah di dalam urine. Penyebabnya adalah peradangan pada ginjal atau karena iritasi akibat bergesekan dengan batu ginjal.
4.       a.    Pisces (Ikan). Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut
       mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi ginjal
       opistonefros. Tubulus ginjal pada ikan mengalami modifikasi menjadi saluran yang
       berperan dalam transport spermatozoa (duktus eferen) ke arah kloaka.
b.   Amphibia (Katak). Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak
       jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di
       kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada katak
       seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat berperan dalam
       pengaturan kadar air dalam tubuhnya.
c.       Reptilia. Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah menjadi Mesonefros hingga metanefros
d.      Aves (Burung). Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat.
5.       a.    Makhluk Hidup Satu Sel (Protozoa) mengeluarkan sisa-sisa metabolismenya dengan
       cara difusi. Karbon dioksida hasil respirasi seluler dikeluarkan dengan cara difusi.
       Selain itu, ada cara lain, yaitu dengan membentuk vakuola yang berisi sisa
       Metabolisme
b.    Planaria. Organ ekskresi yang paling sederhana dapat ditemukan pada cacing pipih
        atau planaria. Organ tersebut bernama protonefridia, berupa jaringan pipa yang
       bercabang-cabang di sepanjang tubuhnya. Jaringan pipa tersebut dinamakan
       nefridiofor. Ujung dari cabang nefridiofor disebut sel api (flame cell).
c.       Cacing Tanah. Cacing tanah, moluska, dan beberapa hewan invertebrata lainnya memiliki struktur ginjal sederhana yang disebut nefridia. Struktur tersebut terdapat di setiap segmen tubuhnya.
d.      Serangga. Alat ekskresi pada serangga, contohnya belalang adalah tubulus Malpighi. Badan Malpighi berbentuk buluh-buluh halus yang terikat pada ujung usus posterior belalang dan berwarna kekuningan.
6.       a.    Dermis adalah lapisan dalam yang terdapat pada kulit manusia.
b.      Epidermis merupakan lapisan kulit paling luar dan lebih tipis dibandingkan lapisan dermis.
c.       Stratum korneum adalah lapisan sel-sel epidermis (sel epitel selapis pipih) yang mati dan menumpuk menjadi berlapis-lapis.
d.      Stratum lusidum merupakan lapisan bening di bawah stratum korneum.
e.      Stratum granulosum adalah lapisan sel yang mengandung pigmen melanin yang berpengaruh terhadap warna kulit.
f.        Stratum germinativum adalah lapisan yang membelah terus-menerus dan mendesak lapisan sel lama ke atas, serta menggantikan sel-sel di lapisan stratum korneum.
7.       Secara umum, terdapat tiga peristiwa penting dalam pembentukan urine, yaitu :
a.       Penyaringan Darah (Filtrasi). Proses filtrasi terjadi di antara glomerulus dan kapsula Bowman. Ketika darah dari arteriol aferen memasuki glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi. Hal tersebut menyebabkan air dan molekul-molekul yang tidak larut dalam darah melewati dinding kapiler pada glomerulus.
b.      Penyerapan Kembali (Reabsorpsi). Ketika filtrat dipindahkan, darah di arteriol eferen glomerulus menjadi sangat pekat. Hal tersebut terjadi karena hilangnya begitu banyak air. Selain itu, filtrasi mengandung substansi-substansi besar yang tidak dapat melewati dinding kapiler glomerulus, seperti sel darah, protein-protein besar, dan kepingan-kepingan lemak.
c.       Pengumpulan (Augmentasi). Urine sekunder dari tubulus kontortus distal akan memasuki tubulus pengumpul. Di tubulus ini, masih terjadi penyerapan kembali air, garam NaCl, dan urea sehingga terbentuk urine yang harus dibuang dari tubuh.
8.       a.    Karbondioksida dan air. Ketika kita bernafas, kita telah melakukan ekskresi, yaitu
       pembuangan sisa-sisa metabolisme yang berupa karbondioksida dan air. Yang
       merupakan sisa-sisa pembakaran zat-zat makanan yang berasal dari karbohidrat,
       lemak, ataupun protein selama respirasi.
b.    Amonia, merupakan sisa pembongkaran senyawa protein atau asam amino.
c.    Urea, dibentuk dari amonia dan karbondioksida melalui reaksi dengan asam amino
       ornitin.
d.      Asam urat, merupakan sisa metabolisme asam nukleat, khususnya puri, adenin, dan guanin.
e.      Zat warna empedu. Hasil perombakan sel-sel darah merah, terutama hemoglobin, tersebut menghasilkan zat warna empedu.
9.       a.   Nefrostoma, merupakan lubang berbentuk corong bersilia yang terdapat dalam
      anterior metanefridium.
b.   saluran ekskresi, merupakan kelanjutan dari lubang nefrostoma. Saluran ini panjang
      dan berliku-liku.
c.   Nefridiofor, merupakan lubang keluar yang menjadi muara saluran ekskresi.
10.   Setiap nefron tersusun atas 5 struktur yaitu :
a.       Glomerulus, merupakan kumpulan atau jaringan kapiler darah yang membentuk simpul.
b.      Kapsula bowman, yaitu organ berbentuk mangkuk yang terdiri dari invaginasi ujung buntu tubulus disekitar glomerulus.
c.       Tubulus konvolusi proksimal, merupakan bagian berliku-liku yang paling panjang dan paling lebar.
d.      Lengkung henle, terletak di tubulus konvolusi proksimal dan tubulus konvolusi distal.
e.      Tubulus konvolusi distal, lebih pendek dan berliku-liku dibandingkan tubulus konvolusi proksimal.



Geen opmerkings nie: